Layaknya berbagai rohis di UGM yang memiliki desa binaan, kali ini BSMI diundang oleh rohis dari fakultas peternakan UGM untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga sekitar Pathuk, Gunung Kidul. Meski dari peternakan UGM yang mengundang kami, tentu saja kami tetap mengobati warga pathuk, bukan mengobati hewan ternak di sana. Para relawan BSMI yang terdiri dari 6 orang, 2 farmasis, 2 perawat, dan 2 dokter, sudah diminta untuk kumpul di sekretarian BSMI jam 7 pagi, karena perjalanan dari sekretariat menuju tempat lokasi hampir sekitar 1 jam lebih. Perjalanan menggunakan mobil dinas fakultas peternakan UGM, Mitsubisi L300. Suara mesinnya yang meyakinkan menandakan mobil ini siap mengangkut kami dan mengantar sampai ke tempat tujuan. Di perjalanan para relawan terpesona saat melintasi perbukitan wonosari. Bisa melihat kota Yogyakarta dari lereng bukit wonosari. Meski siang hari terasa indah, jogja seakan diselimuti oleh kabut pagi.
Saat akan sampai di tempat lokasi kami di beritahu panitia bahwa kami harus turun terlebih dahulu sebelum sampai lokasi karena akan ada penjemputan dengan menggunakan sepeda motor, yang artinya mobil yang kami tumpangi tidak akan sanggup melewati medan selanjutnya. Pikiran kami sudah melayang kemana-mana. Memang medan apa yang akan kami tempuh. Ternyata setelah sampai di tempat transit, kami harus menyebrangi sungai melalui jembatan kayu yang disangga oleh kawat-kawat dan tiang pancang dari besi. Saat menyebrangi jembatan itu, apalagi kami membawa obat-obatan, rasanya jembatan seakan berteriak tidak sanggup menahan beban kami, krieekk.. krieekk.. krieeekk... Kata panitia, dulu sebelum gempa Bantul jembatan ini tidak berbunyi. Berarti jembatan ini sekarang sudah hampir tidak layak pakai.
Kurang lebih 5 menit akhirnya sampai di lokasi, sebuah SD kecil yang sangat sederhana. Bila dilihat dari papan absen, setiap harinya perkelas, SD ini hanya memiliki 4 murid tiap kelas. Berarti dari kelas 1-6 SD jumlah total murid adalah sekitar hanya 24 siswa. Sungguh menyedihkan pendidikan di daerah ini. Dengan fasilitas seadanya saya rasa sangat kejam saat pemerintah memberlakukan NEM minimal dan tidak meluluskan siswa yang tidak memenuhi persayaratan. Beban mereka di daerah terpencil pun juga besar, bukan hanya sebagai seorang pelajar, tapi mereka juga membantu orang tua mencari rumput, ke sawah, memelihara ternak, dll.
Pelayanan kesehatan segera kami siapkan dan kami mulai pukul 8.30. Pasien yang mendaftar kali ini cukup banyak, sekitar 50 lebih warga mendaftar dengan tertib dan rapi. Alhamdulillah tidak ada insiden warga protes karena nomer antriannya dilwati warga lain. Kasusnya bermacam-macam. Mulai dari hanya ingin ketemu dengan dokter Bongky (bukan dokter Boyke ya) sampai pasien dengan kecurigaan gagal jantung grade I. Pelayanan kesehatan berlangsung kurang lebih 3 jam. Kami menutup pelayanan kesehatan ketika telah pasti tidak ada warga lagi yang mendaftar menjadi pasien. Akhirnya kami menata kembali obat-obatan dan bersiap untuk pulang.
Wah sudah membayangkan lagi akan melewati jembatan itu. Rasanya ingin jalan kaki saja saat melewati jembatan, tidak perlu dibonceng. Setelah kami meletakkan obat-obatan di bagasi mobil rasanya badan ini gerah dan ingin segera masuk ke dalam mobil untuk menikmati AC mobil. Alhamdulillah pengobatan kali ini berjalan dengan lancar. Perjalanan pulang kami pun diiringi dengan pemandangan indah Yogyakarta dari bukit Wonosari. Setelah itu beberapa dari kami pun tertidur pulas di dalam mobil sampai beberapa dari kami tidak sadar bahwa mobil telah sampai di sekretariat BSMI. Barakallah.. moga perjalanan tadi menjadikan amal tersendiri di bulan yang penuh barakah ini.. Amiin
Resolusi kamera terlalu besar:D
BalasHapus